Latest Entries »

DOUBLE S EXPEDITION: Pendakian Sindoro Sumbing (2/2)

.....lanjutan dari DOUBLE S EXPEDITION: Pendakian Sindoro Sumbing (1/2)


MIE ONGKLOK
Setelah lelah mendaki gunung, tidak ada salahnya untuk memanjakan lidah. Cukup ke kota Wonosobo dan mencoba kelezatan Mie Ongklok. Pertama terdengar di telinga mungkin namanya sedikit lucu dan aneh. Namun makanan ini tidak bisa dianggap remeh. Sekali masuk mulut, kita akan merasa tidak lengkap jika suatu saat ke Wonosobo lagi tanpa memakan Mie Ongklok. Asal nama Mie Ongklok berasal dan alat yang dipakai untuk merebus mie tersebut. Berbentuk seperti gayung kecil terbuat dari bambu yang diberi nama ”ongklokan". Mie dimasukkan ke dalam ”ongklokan” bersama irisan kol dan daun kucai, kemudian direndam dalam air mendidih sambil “diongklok-ongklok". Setelah panas, mie ditaruh dalam mangkuk kemudian disiram dengan saus pati dan saus kacang.
Mie Ongklok selalu disajikan dengan sate sapi dan tempe kemul, yang juga merupakan makanan khas Wonosobo. Berupa seiris tempe tipis dan digoreng dalam adonan berwarna kuning. Sekilas mirip dengan tempe mendoan asal Purwokerto, namun berwarna kuning terang. Kekhasan lain Mie Ongklok yang tidak ditemukan di tempat lain adalah kucai dan saus patinya. Jika kucai dan pati-nya bukan berasal dan Wonosobo, maka rasanya akan berbeda, karena itu sangat jarang yang menjual Mie Ongklok di luar Wonosobo.


GUNUNG SUMBING

Untuk mendaki Gunung Sumbing, basecamp awalnya di Desa Garung. Dari Wonosobo, desa ini berada di kanan jalan. Untuk mencapai Desa Garung kita harus berjalan dulu sejauh 1 km ke atas. Pendakian Gunung Sumbing tidak perlu menyetok air dari basecamp, sebab masih ada sungai atau jalur air hingga kilometer ketiga pendakian. Trek awal pendakian adalah melalui jalan pedesaan yang tertata rapi. Garung juga merupakan desa penghasil tembakau, dengan spesialisasi tembakau oven-nya. Di desa ini pendaki harus mulai memilih mendaki melewati jalur baru atau jalur lama. Menurut petugas penjaga basecamp, keduanya sama-sama berjarak 7 km untuk sampai ke puncak. Namun, jalur baru Iebih landai, sedangkan jalur lama lebih terjal. Keuntungan bila menggunakan jalur lama adalah waktu tempuh lebih singkat. Dengan menggunakan jalur baru yang sering digunakan pendaki, jalur pendakian sudah mulai menanjak terjal. Ladang tembakau membentang hingga kilometer kedua jalur pendakian.

Memasuki kilometer kedua pendakian melalui Jalur Baru, pendaki akan memasuki kawasan hutan cemara gunung yang dinamakan Bosweisen. Keunikan di Bosweisen adalah lumut berwarna merah yang menempel di setiap pohon cemara, sehingga batang cemara-cemara tersebut terlihat berwarna merah, kontras dengan alam sekitarnya yang berwarna hijau. Sebuah kolaborasi alam yang sangat unik. Tidak jauh dari kawasan Bosweisen, terdapat jalur air (sungai kecil) yang bisa dipakai pendaki untuk mengisi perbekalan air. Selepas jalur air, jalur mulai mendaki terjal, berdebu di musim kemarau dan sangat licin di musim hujan. Jalur terus mendaki hingga kilometer keempat yang dikenal dengan nama Gatakan. Di Gatakan terdapat sebuah nisan in memoriam seorang pendaki yang meninggal di Gunung Sumbing.

Selepas Gatakan, pendaki akan melalui jalur menanjak terjal yang dinamakan Krendengan. Jalur ini terus menanjak hingga ke sebuah puncak punggungan, yang merupakan pertemuan jalur lama dan jalur baru. Punggungan ini dinamakan Pasar Setan, terletak di ketinggian 2.437 mdpl. Konon dinamakan demikian sebab di malam-malam tertentu, warga desa sering mendengar keriuhan berasal dari tempat ini, seakan sedang ada transaksi jual beli yang lazim dilakukan di pasar. Dari Pasar Setan, kondisi jalur sudah gersang, hanya ditumbuhi perdu hingga daerah Pasar Watu. Keadaan gersang dan minim pohon inilah yang membuat Pasar Setan dikenal berbahaya sebagai tempat berkemah. Sebab bila terjadi badai angin, akan sangat merepotkan dan menyiksa pendaki. Namun gersangnya jalur memberikan sebuah pemandangan luar biasa, yaitu kokohnya Gunung Sindoro yang terlihat dengan jelas. Garis-garis ladang di kakinya terlihat memukau. Sejauh mata memandang hanya hamparan awan tipis yang berarak di lembah kedua gunung ini. Memasuki daerah Pasar Watu, jalur semakin sulit dengan hamparan batu tatah yang berserakan. Jalur makin terjal hingga memasuki daerah Watu Kotak. Dinamakan demikian karena bentuknya seperti balok. Di Watu Kotak ini rata-rata pendaki meninggalkan peralatannya untuk mendaki ke puncak dengan peralatan seadanya.

Dari Watu Kotak, untuk menuju Puncak Buntu Gunung Sumbing hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Sebelum puncak terdapat pertigaan, bila memilih lurus pendaki akan sampai ke daerah puncak buntu. Bila pendaki memilih berbelok ke kanan akan menuju ke dataran tertinggi gunung Sumbing yang berupa bongkahan batu cukup besar, sebuah monumen triangulasi alam, serta jalan setapak menuju kawah. Kawah Gunung Sumbing sangat luas. Pendaki dapat turun ke kawah melalui jalan setapak. Kawah Gunung Sumbing terdapat dua bagian (kawah aktif yang senantiasa mengeluarkan asap belerang atau Segoro Wedang, dan kawah mati atau Segoro Wedi berupa dataran pasir yang cukup luas). Dalam kawah Sumbing juga terdapat dataran berumput, Padang Parikesit, lalu sebuah makam yang dikeramatkan oleh warga Desa Garung, yaitu makam Ki Ageng Makukuhan. Kawah Gunung Sumbing juga bisa dipakai tempat bermalam, asalkan pendaki pintar mencari tempat di dekat cerukan batu agar terhindar dan angin gunung yang ganas, serta tiupan asap belerang.
MYSTICAL EXPERIENCE
Tak lengkap rasanya bila sebuah gunung tak memiliki cerita mistis. Jadi tak heran bila kedua gunung ini pun memiliki cerita tersendiri di balik kemegahannya. Ada orang-orang yang percaya bahwa kedua gunung ini adalah tempat untuk mendapatkan ilmu mistis. Maka jangan kaget bila kita menemukan orang yang sedang bermeditasi di spot-spot tertentu di menara kembar. Ada juga yang bercerita bahwa di kedua gunung ini bertemu dengan sosok gaib. Ada yang menampakkan dirinya sebagai pria Belanda, pemuka agama yang memiliki ilmu kebatinan, bahkan seorang pedagang misterius. Untuk Gunung Sumbing, spot mistis yang paling tersohor adalah daerah Peken Setan (Pasar Setan), yang biasa disingkat Pestan. Orang-orang desa percaya, sering terjadi keriuhan dan cahaya kelap-kelip yang terlihat dari desa di atas gunung ketika hari-hari pasar tertentu. Namun akhir-akhir ini fenomena tersebut sudah jarang lagi terjadi. Di masing-masing gunung ini pun terdapat makam keramat. Maka tak heran bila banyak juga yang mendaki dalam rangka berziarah untuk mendapatkan berkah.


sumber :
Travel Tren Magz (2009)
http://www.diengplateau.com/
http://www.temanggungkab.go.id/
http://www.chip.co.id/
http://www.denieksukarya.com/
http://waonetralala.wordpress.com/
http://kliping.warunggue.com/
http://alianci-myadventure.blogspot.com/
http://wisata.kompasiana.com/
http://yiskandar.wordpress.com/
http://aufklarungalam.blogspot.com/
http://www.kaskus.us/
http://erefkarana.blogspot.com/
http://www.joglosemar.co.id/

0 comments: