Latest Entries »

WINTERTIME: Melancong ke Tiga Negara Musim Dingin (1/3)

Indonesia selalu disebut-sebut sebagai negeri yang nyaman karena cuacanya selalu bersahabat, tidak seperti di banyak negara lain yang penduduknya harus selalu bersiap-siap dengan pergantian musim sekaligus menyesuaikan pakaian dan modenya. Meskipun demikian rasanya ingin juga mengalami cuaca bersalju dan udara dingin yang terasa unik bagi kita. Oleh karena itu melancong di akhir tahun ke negara bersalju bisa menjadi alternatif pilihan menarik. Berikut ini beberapa tempat di tiga negara yang tidak boleh terlewatkan di musim dingin. Sudah siap dengan baju tebal, syal, pelindung telinga dan sepatu tahan dingin? Ayo, berangkat!



SWISS: Salju Abadi

Obrolan tentang salju dan gunung es, tidak mungkin mengabaikan Swiss. Negeri mungil yang dikelilingi oleh Perancis, Italia dan Jerman ini mencakup wilayah pegunungan Alpen, yang terekam di adegan terakhir film Sound of Music. Tetapi Alpen bukanlah satu-satunya objek wisata di negera yang bersahabat ini.

Penerbangan dari luar negeri pada umumnya menjadikan Zurich sebagai tujuan pertama. Kota besar dengan bandar udara internasional ini memang cocok dijadikan titik tolak wisata di Swiss. Dari Zurich, kita bisa melanjutkan perjalanan ke kota-kota lain dengan menggunakan pesawat terbang, bus, kereta, trem, atau perahu. Meskipun sering dijadikan kota transit,
Zurich sendiri adalah kota modern yang menarik untuk dikunjungi, karena kota ini menawarkan beragam wisata. Mulai dari wisata keluarga, kuliner, budaya, gaya hidup, belanja, sampai olahraga. Atmosfer urban yang sangat kental juga menawarkan wisata arsitektur yang menarik, dan tata lampu yang unik bisa dinikmati pada malam hari. Bermalam di Zurich tidak akan membuat kita menyesal.

Terletak di wilayah Bernese Oberland, Interlaken adalah tujuan wisata paling tua dan populer. Kota ini memperoleh namanya dari bahasa Latin inter dan locus yang berarti berada di antara dua danau. Kedua danau itu adalah Danau Brienz dan Thun, masing-masing di sisi timur dan barat kota ini. Selain itu, Interlaken juga dikelilingi oleh gunung-gunung Eiger, Jungfrau, dan Monch. Dengan situasi geografis yang demikian, Interlaken memiliki pemandangan indah yang sangat istimewa.

Interlaken merupakan kota penghubung untuk menuju Jungfraujoch, tujuan utama wisatawan. lnilah yang menyebabkannya begitu populer. Kota ini berusaha menyediakan sarana penginapan dengan harga yang bervariasi, serta berbagai sarana transportasi yang aman dan nyaman. Interlaken sendiri menawarkan beragam kegiatan yang tidak kalah menarik bagi para pengunjungnya, antara lain ski, paralayang, gantole, dan terjun payung.

Menuju Jungfraujoch, kita harus berangkat dari stasiun Interlaken yang bisa dicapai dengan kereta api selama tiga setengah jam dari Geneva atau dua setengah jam dari Zurich maupun Basel. Dari Interlaken, ada kereta untuk mencapai stasiun Jungfraujoch. Jalur kereta ini merupakan salah satu jalur termahal di Eropa. Tetapi ongkos pulang-pergi Interlaken-Jungfraujoch yang sebesar CHF115 (kelas satu) atau CHF108 (kelas dua) sama sekali tidaklah sia-sia. Perjalanan menuju Jungfraujoch sendiri sudah menyajikan pemandangan yang akan membuat kita terpesona.

Belum lagi nantinya kereta akan melalui jalur terkenal yang bernama Jungfraubahn. Jalur sepanjang 9 km yang menembus perut pegunungan Eiger dan Monch ini menghubungkan Kleine Scheidegg dengan stasiun kereta api di Jungfraujoch. Di dalam terowongan tersebut terdapat dua stasiun di mana para penumpang dapat turun untuk mengamati pemandangan pegunungan melalui jendela-jendela yang dibangun menembus sisi lereng gunung. Jalur ini adalah salah satu kebanggaan Swiss, karena Jungfraubahn merupakan hasil rancangbangun dan teknik konstruksi yanq canggih.

Salju abadi menunggu kita di tempat yang juga disebut sebagai Puncak Eropa karena letaknya yang tertinggi dibandingkan tempat-tempat lain di benua yang sama. Titik terendah Jungfraujoch saja sudah 3471 m, terletak di atas stasiun kereta api yang 3454 m tingginya dan merupakan stasiun kereta tertinggi di Eropa. Jungfraujoch juga merupakan lokasi Global Atmosphere Watch, yaitu tempat penelitian astronomi dan meteorologi. Ruang pamer dan penayangan video yang menerangkan kondisi cuaca berada di lorong awal perjalanan, terpisah dari tempat penelitiannya.

Penjelajahan Jungfraujoch dimulai dari Ice Palace yang berupa lorong-lorong es, terletak 19 m di bawah permukaan es. Suasananya serupa seperti di akuarium besar yang berlorong, tetapi di 'istana' ini kita terlindung oleh es yang membentuk dinding sampai langit-langit. Di dalam lorong-lorong juga terdapat patung-patung es berbagai macam bentuknya. Dengan ketinggian yang luar biasa ini, metabolisme tubuh kita mungkin harus bekerja agak lebih keras supaya merasa nyaman. Sedikit pusing atau merasa agak lelah itu biasa, yang penting jangan memaksakan diri. Dari 'Istana Es' kita bisa langsung melanjutkan perjalanan, atau bisa juga mampir ke bagian lebih rendah dari stasiun menuju ke Crystal Restaurant yang istimewa, atau sekedar istirahat sejenak di kedai kopi. Kalau ingin membeli oleh-oleh khas Jungfraujoch silakan kunjungi toko-toko suvenir yang berada di sisi berlawanan dari rumah makan.

Salah satu tujuan wisata di tempat yang telah ditetapkan sebagai UNESCO World Natural Heritage ini adalah menikmati pemandangan gunung berlapis salju dari Sphinx, titik tertinggi yang bisa dicapai pengunjung. Sphinx bisa dicapai dengan menaiki lift hingga 107 m dari permukaan es. Dari teras ini, Eiger, puncak Jungfrau dan Monch serta lembah di antaranya kelihatan begitu menakjubkan. Rasanya tidak sia-sia menyesuaikan diri dengan lapisan udara yang lebih tipis, agar bisa memandang alam yang begitu indah. Dari sini juga tampak Aletsch Glacier, sungai es terpanjang di Eropa yang membentang sepanjang 23 km sebelum esnya meleleh di Danau Geneva kemudian menuju ke laut Mediterranea. Jika cuaca sedang cerah, kita bahkan bisa memandang jauh sampai ke rangkaian pegunungan Vosges yang merupakan wilayah Perancis, dan Black Forest di wilayah Jerman.

Jika tidak terlalu menikmati ketinggian 3571 m di teras Sphinx, kita juga bisa langsung menuju glacier, jalan es di udara terbuka. Dari glacier ini kita dan keluarga bisa bermain seluncur es menggunakan peluncur. Untuk yang lebih berani, bisa mencoba Tyrolienne, yaitu meluncur dengan bergantung pada utasan kabel sejauh 200 m. Sementara bagi yang sudah berpengalaman, silakan mencoba ski di taman es abadi ini. Atau lebih tertarik mencoba lima menit mengendarai kereta yang ditarik anjing-anjing Siberian Husky? Silakan coba kapan saja, karena Jungfraujoch buka setiap hari sepanjang tahun.

Pada tanggal 27 November 2008, Uni Eropa telah resmi menjadikan Swiss sebagai anggota Schengen. Dari perkembangan tersebut, berarti Swiss telah mengeluarkan visa Schengen terhitung sejak tanggal 12 Desember 2008 untuk masa tinggal maksimal tiga bulan di Swiss. Visa ini juga berlaku untuk memasuki wilayah Schengen lainnya. Kedutaan Besar Swiss di Indonesia telah menggunakan prosedur-prosedur Schengen untuk pembuatan visa. Sebaliknya pemegang paspor Indonesia dengan visa Schengen yang berlaku dan dikeluarkan oleh negara anggota Schengen lainnya diperbolehkan memasuki wilayah Swiss tanpa harus membuat visa tambahan untuk Swiss.



0 comments: