Latest Entries »

Aneka Kuliner Khas Kaimana

Perairan Kaimana yang berhias pulau-pulau bagai taburan permata itu mudah menghadirkan satu persepsi, yaitu bahwa masyarakatnya sebagian besar mencari nafkah sebagai nelayan. Betulkah? Salah! Meski dikelilingi lautan biru menawan, penduduk Kaimana sebenarnya lebih banyak 'mencari' di darat, yakni dengan bertani, berladang dan berburu. Kawasan subur bertahta hutan tropis ini memang mudah untuk ditanami dan masih memiliki kekayaan hayati yang berlimpah.


SATE & GULAI RUSA

Rusa adalah salah satu binatang hutan yang masuk dalam daftar perburuan penduduk Kaimana. Kita mungkin mengernyitkan dahi dan bertanya, 'Memangnya rusa masih boleh diburu?' Ternyata boleh, tapi dalam batasan-batasan tertentu. Salah satu batasannya adalah menggunakan metode perburuan tradisional. Dalam hal ini, kata 'tradisional' mencerminkan cara penduduk dalam berburu, yaitu dengan menggunakan jerat. Jadi bukan memakai metode modern dengan mobil 4WD dan senapan jitu. Maka jika mampir di Kaimana, bukan makanan berbahan daging sapi yang ditemui melainkan berbagai penganan dari daging rusa. Kedai-kedai makan di Kaimana khususnya penjual sate, hampir semuanya menjual makanan berbasis daging rusa, yang setelah dihidangkan bentuknya sama saja dengan menu-menu serupa di bagian barat Indonesia yaitu sate dan gulai. Tapi rasanya jauh lebih empuk, gurih dan lezat ketimbang daging sapi. Lebih dari itu, daging rusa kabarnya juga memiliki asupan protein yang lebih tinggi. Healthy AND yummy!


SEAFOOD, SEAFOOD!

Makanan laut atau seafood tentunya juga masuk 'daftar wajib santap' dalam kunjungan ke Kaimana. Salah satu yang direkomendasikan adalah bakso ikan tenggiri. Lagi-lagi bentuknya mirip menu serupa yang ada di belahan barat Pertiwi ini. Tapi karena terbuat dari ikan tenggiri segar hasil tangkapan di perairan Kaimana yang masih bersih dan bebas polusi, rasanya pun jadi lebih mantap! Bakso inipun juga bisa dibeli sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di kota asal. Selain makanan 'warungan', hidangan laut juga ditawarkan di beberapa restoran di Kaimana.
Kima adalah hidangan laut lain khas Kaimana yang dapat dicicipi jika sedang beruntung. Maksudnya, saat sedang berlayar di perairan Kaimana dan kebetulan bertemu nelayan yang sedang mencani kima, kita bisa langsung menghampiri dan membelinya. Jenis kerang laut ini dimakan segar-segar alias mentah, dengan dibubuhi sedikit perasan jeruk nipis. Rasanya? Mirip sashimi!


PAPEDA & SOAT-SOAT

Seperti kebanyakan penduduk di timur Indonesia, masyarakat Kaimana pun menyantap sagu sebagai salah satu sumber karbohidratnya. Jenis makanan yang selama ini banyak dianggap sebagai masakan khas Maluku yaitu papeda, ternyata juga merupakan makanan pokok di Kaimana. Berbentuk bubur bening yang lengket mirip lem, papeda di Kaimana juga dihidangkan dengan sup ikan yang asam-asam segar atau kuah mias yang terbuat dan kima. Makanan khas Kaimana yang juga berbasis tanaman adalah soat-soat, yaitu sejenis keladi yang ditumbuk.
Setelah dimasak, bentuk serta rasanya mirip mashed potato dan disajikan dengan bermacam-macam lauk, baik ikan maupun daging rusa. Papeda dan soat-soat jarang dijual di kedai-kedai, melainkan hanya dimasak oleh penduduk sebagai makanan sehari-hari, atau untuk acara khusus. 'Bintang keberuntungan' sekali lagi harus berada di pihak kita jika ingin mencicipinya, yakni saat diadakannya acara tertentu seperti pernikahan atau ritual adat lain.


PENCUCI MULUT ALA KAIMANA

Jangan pikir masyarakat di tempat terpencil tak punya dessert! Penduduk Kaimana memiliki hidangan pencuci mulut yang menggugah selera. Terbuat dari telur dan susu kental manis, kue lontar adalah kue khas dan wajib bagi penduduk yang beragama Islam, terutama saat Hari Raya Idul Fitri. Lalu kenapa disebut kue lontar? Ternyara pie susu ini harus disajikan di piring khusus, yaitu piring 'lontar' dari porselin yang tahan panas. 'Pasangan' kue lontar ini adalah speecook. Bisa ditebak, kue yang satu ini diadaptasi dari para penjajah Belanda di masa lalu. Pantas saja bentuknya seperti lapis legit, yang memang merupakan kue khas Belanda yang sudah 'di-Indonesia-kan'. Tapi saat mencicipi speecook di Kaimana, barulah kita bisa merasakan bedanya.
Kue ini lebih kaya rempah dan rasanya lebih legit! Kue lontar dan speecook biasa dihidangkan dengan teh halia atau teh jahe. Yang lebih unik lagi adalah cara memasaknya. Masyarakat yang tinggal di desa-desa kecil di berbagai pulau masih memasak kue-kue ini dengan menggunakan drum dan seng atau aluminum, yang dipanaskan di atas tungku berbahan bakar sabut kelapa, sehingga mirip oven. Pemandangan yang wajib diabadikan!

Bagi yang datang ke Kaimana dengan liveaboard, semua hidangan lokal ini bisa pula dicicipi asalkan dikomunikasikan terlebih dahulu dengan penyedia jasa liveaboard. Mereka biasanya dengan senang hati dapat mengatur dan memesankannya pada penduduk ataupun rumah makan lokal.



sumber :
Tamasya Magz (2009)
http://id.wikipedia.org/
http://www.griyawisata.com/
http://i.okezone.com/
http://media-cdn.tripadvisor.com/
http://tulehu.homestead.com/
http://uniqpost.com/
http://maedapur.blogspot.com/
http://sparklette.net/

0 comments: